AndalasNews.com Cerita soal pemerkosaan dan penganiayaan seksual, yang sebagian besar menimpa perempuan etnis Tionghoa, dituturkan oleh aktivis perempuan Ita Fatia Nadia, dari Tim Relawan untuk Kemanusiaan.
“Ada 15 orang yang langsung saya tangani, dan hampir semua dirusak alat kelaminnya,” ujar Ita dalam wawancaranya.
“Untuk saya (pemerkosaan massal) ini bukan suatu rumor, ini sungguh-sungguh terjadi,” tambahnya.
Istilah “rumor” yang dirujuk Ita adalah komentar Menteri Kebudayaan Fadli Zon dalam wawancaranya dengan IDN Times soal kekerasan terhadap perempuan tahun 1998.
“Ada enggak fakta keras? Kalau itu kita bisa berdebat. Ada perkosaan massal, betul enggak ada perkosaan massal? Kata siapa itu? Enggak pernah ada proof-nya,” kata Fadli Zon.
“Itu adalah cerita. Kalau ada (faktanya), tunjukkan. Ada enggak dalam buku sejarah Indonesia? Enggak pernah ada,” tambahnya.
“Nah, rumor-rumor seperti itu menurut saya tidak akan menyelesaikan persoalan.”
Faktanya, dalam buku Sejarah Nasional Indonesia edisi pemutakhiran, Jilid VI, halaman 669, ditulis dengan jelas adanya pemerkosaan massal.
- “Terjadi pula pemerkosaan terhadap sejumlah besar perempuan-perempuan keturunan Cina. Kerusuhan dan perusakan serupa terjadi pula di kota-kota lainnya, terutama di Solo.
Tapi belakangan, Fadli berusaha menjelaskan maksud kalimatnya yang terdengar meragukan terjadinya pemerkosaan massal tersebut.
“Jadi itu harus ada fakta-fakta hukum, ada (bukti) akademik, jadi ada siapa korbannya, di mana tempatnya, mana kejadiannya, itu kan harus ada,” kata Fadli di Kampus IPDN Jatinangor, Jawa Barat (24/06).
Meski ia “yakin” ada kekerasan seksual yang terjadi, tapi ia mempertanyakan istilah “massal”, termasuk apakah itu terjadi secara “sistematik, terstruktur, dan masif.”F-A





