Kota Tangerang, Andalasnews.com – Namanya Ani Rohmani, tapi di komunitas Seniman Peduli Sesama (SPS) ia lebih akrab disapa Nunda Ani. Di tengah gemerlap panggung seni, suara musik, dan teriakan penonton, ada sosok perempuan yang tak henti-hentinya berlari ke sana kemari, memastikan acara berjalan sesuai rencana. Dialah salah satu Srikandi SPS, perempuan tangguh yang diam-diam menjadi penopang suksesnya HUT ke-7 SPS.
Datang Paling Awal, Pulang Paling Akhir
Sejak pagi, Bunda Ani sudah tiba di lokasi acara. Ia ikut membantu menata kursi, mengatur konsumsi, hingga memastikan sound system dan panggung siap digunakan. Bagi sebagian orang, pekerjaan itu sepele. Tapi bagi Bunda Ani, inilah bentuk pengabdiannya.
“Kalau nggak ada yang ngurusin detail kecil, acara bisa berantakan. Saya senang bisa bantu. Meski capek, yang penting semua lancar,” katanya dengan senyum tulus.
Di saat artis sibuk di panggung, dan pejabat memberi sambutan, Bunda Ani memilih tetap berjaga di belakang layar. Kadang ia ikut memandu tamu undangan, kadang membantu anak-anak yatim agar tertib saat menerima santunan.
Srikandi yang Selalu Menyatukan
Bagi teman-temannya di SPS, Bunda Ani bukan hanya pengurus, tapi juga perekat. Ia selalu bisa mencairkan suasana ketika ada perbedaan pendapat. “Kalau Nunda Ani yang ngomong, semua adem. Dia orangnya halus tapi tegas,” ujar salah satu anggota SPS sambil tersenyum.
Di balik tubuh mungilnya, tersimpan energi besar yang mampu menggerakkan banyak orang. Tak heran, Nunda Ani dijuluki Srikandi SPS yang tidak pernah lelah.
Bekerja Tanpa Ingin Sorotan
Berbeda dengan artis yang tampil di atas panggung, Bunda Ani lebih senang berada di balik layar. Baginya, apresiasi terbesar bukanlah tepuk tangan penonton, melainkan rasa syukur ketika melihat anak-anak yatim tersenyum dan masyarakat merasa terhibur.
“Kalau ditanya capek ya capek. Tapi semua terbayar ketika lihat orang-orang bahagia. Itu sudah cukup buat saya,” ucapnya lirih.
Simbol Kekuatan Perempuan di SPS
Sosok Bunda Ani membuktikan bahwa keberhasilan sebuah acara besar tidak hanya ditentukan oleh sorotan lampu panggung, tapi juga oleh orang-orang yang bekerja keras tanpa terlihat. Dan dalam tubuh SPS, para Srikandi seperti Bunda Ani adalah jantung yang membuat organisasi tetap hidup.
HUT ke-7 SPS akhirnya menjadi lebih dari sekadar perayaan seni. Ia menjadi bukti bahwa wanita mampu menjadi tulang punggung komunitas, bahkan ketika tidak banyak yang tahu.
(Jakaria Agustono Bang Zeck)








