AndalasNews.com – Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengungkapkan bahwa ia telah memerintahkan pengerahan dua kapal selam nuklir AS mendekati wilayah Rusia.
Tindakan tersebut dilakukan Trump, sebagai respons terhadap pernyataan mantan Presiden Rusia Dmitry Medvedev. Dalam sebuah wawancara dengan Newsmax, Trump menjelaskan alasan di balik langkah tersebut.
“Ya, mereka berada dekat Rusia,” kata Trump saat ditanya tentang lokasi kapal selam tersebut.
“Saya hanya ingin memastikan bahwa kata-katanya hanyalah kata-kata dan tidak lebih dari itu.” lanjutnya.

Selain itu, langkah ini diambil Trump di tengah meningkatnya frustrasi Trump atas kebuntuan perundingan damai yang bertujuan mengakhiri perang Rusia-Ukraina yang kian memanas sejak 2022 silam.
Sebelum peluncuran kapal selam nuklir dilakukan Presiden Trump sempat mengancam Presiden Rusia Vladimir Putin agar segera akhiri perang dan membuat kesepakatan damai dengan Kyiv.
Dalam dialog resmi yang dilansir dari Al Jazeera, Trump memberi tenggat waktu 10-12 hari agar Putin bisa segera membuat kesepakatan damai dengan Kyiv.
Ini merupakan deadline baru yang lebih singkat dari deadline 50 hari sebelumnya yang ditetapkan Trump kepada Putin. Guna mempercepat perdamaian antara Rusia dan Ukraina yang telah berkonflik sejak awal 2022
Namun Rusia menolak keras perintah tersebut, Dmitry Medvedev, mantan Presiden Rusia sekaligus Wakil Ketua Dewan Keamanan Rusia menyebut langkah Trump sebagai “langkah menuju perang” dan menuduh presiden AS “bermain dengan api”.
Konfrontasi ini menambah babak baru dalam hubungan dingin antara Washington dan Moskow. Hingga Trump memerintahkan dua Kapal Selam Nuklir untuk ditempatkan di wilayah yang tepat sebagai langkah pencegahan.
Trump menegaskan bahwa tindakan ini bukan ancaman serangan, melainkan langkah antisipasi atas retorika provokatif Rusia.
Risiko Eskalasi dan Bayang-Bayang Perang Dunia III
Langkah Trump ini langsung memunculkan kekhawatiran akan risiko eskalasi global.
Banyak analis memperingatkan bahwa ketegangan militer antara AS dan Rusia, dua negara pemilik senjata nuklir terbesar, dapat memicu situasi tak terkendali.
“Setiap sinyal militer di level ini membawa konsekuensi besar. Jika salah langkah, dunia bisa menghadapi krisis keamanan internasional terburuk sejak Perang Dingin,” ujar seorang analis keamanan internasional di Washington.
Kementerian Luar Negeri Rusia belum memberikan tanggapan resmi atas manuver kapal selam AS ini. Namun, Viktor Vodolatsky, anggota parlemen senior Rusia, menyebut reposisi itu tidak mengejutkan dan mengklaim kapal selam AS “telah lama dalam pengawasan armada Rusia
Rusia Beri Respon
Merespon tindakan Trump yang mengirimkan kapal nuklir ke wilayah Rusia, Viktor Vodolatsky, anggota parlemen senior Rusia, menegaskan bahwa Moskow tidak melihat langkah tersebut sebagai ancaman baru karena kapal selam AS itu “sudah lama berada di bawah kendali armada Rusia”.
Viktor Vodolatsky juga menambahkan bahwa langkah Trump tersebut sebagai manuver politik, bukan kekuatan militer nyata.
“Kapal selam nuklir kami jauh lebih banyak di lautan dunia, dengan senjata terkuat dan terdahsyat. Biarkan saja dua kapal Trump berlayar, mereka sudah lama berada di bawah todongan senjata kami,” ujar Vodolatsky pada Minggu (3/8/2025).
[PZHC]








