POLEMIK DI MASYARAKAT PADANG PARIAMAN AKIBAT PEMBATALAN SEPIHAK ACARA PKD DI KATAPIANG 

DIAMNYA BUPATI PADANG PARIAMAN MENAMBAH PANJANG POLEMIK DI MASYARAKAT AKIBA_20250712_001735_0000

Andalasnews.com Masyarakat dan tokoh adat minang kecewa berat terhadap keputusan sepihak Pemerintah Kabupaten Padang pariaman, Pucuk Adat Nagari Katapiang, Rangkayo Rajo Sampono, memutuskan untuk membentuk kabupaten baru atau bergabung dengan kota padang.

Hal itu dikatakan dengan tegas akan Memindahkan tanah ulayat Nagari Katapiang dari wilayah administrasi Kabupaten Padang pariaman ke Kota Padang. Keputusan ini mencuat setelah Bupati Padang pariaman John Kenedy Azis menghentikan pelaksanaan Pekan Kebudayaan Daerah (PKD) I yang telah dirancang secara matang di Katapiang.

“Kami tidak pernah meminta jadi tuan rumah. Pemda sendiri yang menentukan. Sekarang dihentikan dengan alasan tidak boleh pakai APBD,” tegas Rangkayo Rajo Sampono, kepada awak media

Ia menyebut sikap Bupati Padang pariaman sangat melukai hati masyarakat Nagari Katapiang. Apalagi pemberitahuan penghentian kegiatan tersebut disampaikan lewat siaran pers resmi tanpa ada ruang diskusi. “Seakan kami-kami meminta anggaran APBD. Padahal, tidak sama sekali,” tegasnya.

keputusan yang diambil bupati terkesan otoriter dan emosional tidak mencerminkan seorang pemimpin yang bijaksana.

“Saya sudah temui bupati dia bilang hentikan dan Kami tidak diberi ruang sedikitpun untuk berdiskusi. Seakan-akan tidak ada lagi ruang dialog ,” sesal rk Rajo Sampono.

Kami menilai jika alasan anggaran menjadi kendala, seharusnya bisa dicari solusi bersama melalui semangat gotong royong, bukan malah menghentikan begitu saja. “Kalau dihentikan, kemana muka kami akan diletakkan. Kita sudah mengundang banyak orang,” tegasnya lagi.

Maka dari itu, sambungnya, luka yang diciptakan Bupati Padang pariaman begitu mendalam.

Hal itulah yang membuat polemik antara masyarakat dan pemimpin tidak kondusif.

“Bupati itu kan sudah saya anggap seperti anak sendiri dan dia panggil saya ayah ini saya lakukan untuk memberi pelajaran untuk kedepannya dia agar lebih bijak dan sopan bersikap ke orang tua dan masyarakat dia seperti itu bagaimana ke anak kemenakan saya,” ujarnya geram.

“Kami sangat kecewa. Tiga kali dia telpon tidak saya angkat. Hati saya benar-benar sakit. Saya temui dia ke rumah dinas bersama niniak mamak Katapiang. Kami tunggu 2 jam dia. Nyatanya yang kami dapat hanya kata sudah, hentikan saja pekan kebudayaan itu,” ingatnya lagi.

“Tidak dibangunnya pun nagari kami ini 5 tahun ke depan, tidak masalah bagi kami. Dia benar-benar mencoreng wajah niniak mamak dan masyarakat Nagari Katapiang. Dia (bupati) Harus digaris bawahi dia anak dapat di jalan. Kalau kurang ajar begini, ya saya buang lagi ke jalan,” tukas Rajo Sampono yang menahan emosionalnya.

Langkah untuk memindahkan tanah ulayat ke Kota Padang bukan keputusan yang diambil dalam semalam. Rajo Sampono mengungkapkan bahwa dulu Wali Kota Padang Fauzi Bahar sempat menawarkan hal serupa.

Namun, saat itu ia menolak demi menghargai Bupati Muslim Kasim. Kami merasa Nagari Katapiang telah diabaikan.

“Anak bana yang ma anggap ayahnyo abu di ateh tunggua. Lebih baik saya keluar dari rumah,” tegasnya, mengibaratkan perasaan seorang ayah yang diusir anaknya dari rumah.

Bahkan, ia memastikan tidak akan membuka ruang dialog dengan Bupati Padang pariaman.

Penulis : J.F.T

320 Dilihat
Berita Terbaru
Berita Terbaru
Kabar Daerah
Terpopuler
Pengunjung