KARENA KETERBATASAN BIAYA, MUTIARA TERANCAM PUTUS KULIAH: HARAPAN TERAKHIR BERGANTUNG PADA ULURAN TANGAN PEMERINTAH KABUPATEN AGAM

Foto: Mahasiswi Muda Mutiara Joni Legita (19)
Foto: Mahasiswi Muda Mutiara Joni Legita (19)

Bukittinggi — Andalasnews.com, Di balik prestasi akademik yang mengagumkan, tersimpan kisah pilu seorang mahasiswi muda bernama Mutiara Joni Legita (19). Ia adalah lulusan Seleksi Nasional Berdasarkan Prestasi (SNBP) 2024 dan kini tengah menempuh pendidikan di Jurusan Informatika Universitas Islam Negeri (UIN) Bukittinggi. Namun, mimpi besarnya untuk menjadi Full-Stack Developer profesional nyaris kandas akibat keterbatasan biaya.

Sejak awal kuliah, Mutiara dikenal sebagai mahasiswi berprestasi. Dengan IPK semester 1 sebesar 3,75 dan semester 2 sebesar 3,66, ia membuktikan kualitas akademiknya. Namun ironisnya, prestasi tersebut belum cukup untuk menjamin kelanjutan pendidikannya. Mahasiswi yang tinggal di Siguhung, Jorong I Siguhung, Kenagarian Lubuk Basung, Kecamatan Lubuk Basung, Kabupaten Agam ini terancam tidak dapat melanjutkan ke semester 3.

Mutiara adalah anak dari pasangan Joni Charles dan Yusleni, keluarga sederhana yang berjuang dari hari ke hari. Sang ayah hanya bekerja serabutan dengan penghasilan yang tidak tetap, sementara sang ibu merupakan ibu rumah tangga.

Dalam pernyataannya kepada awak media, Joni Charles, sang ayah, mengungkapkan kesedihannya melihat kondisi pendidikan anaknya.

“Kami sangat bangga Mutiara bisa masuk UIN Bukittinggi lewat jalur prestasi. Tapi sekarang kami bingung. Untuk biaya kuliah berikutnya, kami benar-benar tidak tahu harus cari ke mana. Saya cuma kerja serabutan. Kadang ada, kadang tidak ada sama sekali. Saya cuma ingin anak saya bisa sekolah tinggi, itu saja harapan kami,” ujarnya dengan suara parau.

Senada dengan itu, Yusleni, ibunda Mutiara, menyampaikan harapan agar ada pihak yang peduli dan bisa membantu.

“Kami orang kampung, tidak banyak tahu ke mana harus minta tolong. Tapi kami yakin, pasti ada yang hatinya tergerak. Mutiara anak yang rajin, pintar, dan tidak pernah merepotkan. Sayang kalau dia sampai berhenti kuliah karena uang. Tolong bantu anak kami,” ucapnya sambil menahan air mata.

Mutiara sendiri mengaku sudah mencoba mencari alternatif, termasuk mendaftar Beasiswa Agam Maju, namun hingga kini belum ada kejelasan dari pihak pemerintah daerah.

“Saya sangat berharap pemerintah Kabupaten Agam melalui dinas terkait bisa memperhatikan nasib mahasiswa seperti saya. Kami tidak malas belajar, tapi kami memang terkendala biaya. Mohon dibantu agar saya bisa lanjut dan kelak membantu orang tua,” kata Mutiara.

Pimpinan Redaksi Andalas News, Jonfrizal Tanjung, SH, turut memberikan perhatian serius atas kasus ini. Ia menyebut Mutiara sebagai salah satu potensi besar dari Agam yang tidak boleh disia-siakan.

“Kami mendesak Pemerintah Daerah, khususnya Bupati Agam, Dinas Sosial, dan Dinas Pendidikan untuk segera turun tangan. Jangan sampai ada anak daerah yang harus berhenti kuliah hanya karena ekonomi. Ini soal masa depan Agam dan anak-anak cerdas yang akan memajukan daerahnya,” tegas Jonfrizal.

Lebih jauh, Jonfrizal juga menyatakan komitmennya bahwa media Andalas News siap menjadi jembatan komunikasi antara masyarakat dan pemerintah, serta siap menggalang solidaritas bagi mahasiswa berprestasi yang terkendala ekonomi.

“Kami akan kawal ini sampai ada kepastian. Bahkan kalau perlu, kami bantu suarakan di tingkat provinsi maupun nasional. Negara harus hadir di tengah persoalan nyata seperti ini. Jangan biarkan masa depan anak-anak cerdas digilas oleh kemiskinan,” tutupnya.

Kini, harapan keluarga Mutiara berada pada perhatian dan aksi nyata dari Pemerintah Kabupaten Agam. Kisah ini menjadi cermin bahwa pendidikan belum sepenuhnya merata jika masih ada anak-anak cerdas yang harus berhenti karena tak mampu membayar kuliah.

 

 

 

 

Redaksi: andalasnews.com

Reporter: Tim Andalas Sumatera Barat

Editor: Jonfrizal Tanjung, SH

 

 

158 Dilihat
Berita Terbaru
Berita Terbaru
Kabar Daerah
Terpopuler
Pengunjung