“Para Laknat”: Prabowo Singgung Adanya Pemain yang Ingin Hisap Kekayaan Negara

Foto: istimewa
Foto: istimewa

Jakarta, Andalasnews.com – Fenomena kejanggalan di tengah masyarakat maupun tubuh pemerintahan kian mencuat ke permukaan. Mulai dari penggerogotan nilai-nilai agama dan budaya, lemahnya pendidikan dan karakter, hingga maraknya hasutan dan adu domba di ruang publik. Situasi ini diperparah dengan derasnya konten negatif di media sosial, meningkatnya angka kemiskinan, hingga kebijakan ekonomi yang dinilai justru membebani rakyat.

Tak hanya di masyarakat, dalam tubuh pemerintahan pun kejanggalan semakin tampak. Naiknya berbagai jenis pajak, membengkaknya utang negara, angka kemiskinan yang direduksi dalam data resmi, hingga praktik korupsi, kongkalikong, dan kecurangan dalam pemilu menjadi bukti nyata. Bahkan, pemblokiran rekening bank oleh PPATK serta berbagai manuver kebijakan yang dianggap tidak berpihak pada rakyat, memperkuat dugaan adanya kekuatan tersembunyi yang sedang bermain.

Fenomena ini oleh sebagian kalangan disebut sebagai ulah “Para Laknat”. Sebuah istilah untuk menggambarkan aktor-aktor yang diduga berperan dalam melemahkan bangsa, baik secara politik, ekonomi, maupun budaya.

Prabowo: Ada Pemain yang Ingin Menghisap Kekayaan Negara

Menteri Pertahanan sekaligus tokoh politik nasional, Prabowo Subianto, secara terbuka menyinggung soal keberadaan kelompok atau individu yang hanya ingin memperkaya diri tanpa memedulikan nasib rakyat.

Dalam pengarahan di Sidang Kabinet Paripurna di Istana Kepresidenan, Rabu (6/8/2025), Prabowo dengan tegas menyebut adanya “pemain-pemain” yang ingin menghisap kekayaan negara.

“Pemain di ekonomi-ekonomi ini ada yang niatnya hanya mencari keuntungan sebesar-besarnya. Tak peduli rakyat kondisinya seperti apa. Bila perlu rakyat dimiskinkan terus agar mereka bisa menghisap kekayaan kita,” tegas Prabowo.

“Bagaikan menghisap darah, ada, ini namanya realisme. Kita bukan anak kecil, kita tidak bisa dibohongi, kita tidak bisa ditipu lagi,” tambahnya.

Prabowo juga mengingatkan bahwa salah satu bentuk pelemahan bangsa adalah melalui pangan. Menurutnya, serangan terhadap ketahanan pangan merupakan bagian dari strategi kelompok yang ingin mengendalikan arah bangsa.

Pernyataan Prabowo ini kemudian banyak dikaitkan dengan narasi tentang “Para Laknat”, sebuah kekuatan tersembunyi yang disebut-sebut memiliki jaringan luas hingga ke level global.

Elit Global dan Jeratan Ekonomi Indonesia

Sejumlah analis meyakini bahwa elit global kerap menilai ekonomi Indonesia kecil dan tidak berpengaruh pada perekonomian dunia. Namun, ada pula yang menilai justru sebaliknya – Indonesia adalah negara yang strategis, kaya sumber daya alam, dan memiliki pengaruh signifikan.

“Indonesia ini ibarat raksasa yang sedang tidur. Elit global paham betul bahwa jika kekuatan bangsa ini terkelola dengan baik, maka bisa menjadi kekuatan dunia. Karena itu, mereka berusaha melemahkan, mengendalikan, bahkan menguasai sumber daya bangsa,” ujar seorang pengamat ekonomi politik yang enggan disebutkan namanya.

Indonesia disebut terikat dalam jebakan pasar global, di mana banyak BUMN dan perusahaan strategis dipaksa berbagi kepemilikan dengan asing melalui Bursa Saham. Tragedi penjualan Indosat ke Singapura menjadi salah satu contoh pahit. Kini, 13 BUMN sudah melantai di bursa saham, termasuk sektor infrastruktur dan konstruksi seperti ADHI Karya, Wijaya Karya, Waskita Karya, dan PT. PP. Bahkan Garuda Indonesia, maskapai kebanggaan nasional, sahamnya sudah dikuasai publik dan rawan masuk ke tangan asing.

Laknat Lokal dan Nasional

Selain laknat yang beroperasi di level global, praktik serupa juga disebut sudah menjalar di level lokal. Kepala daerah dan pejabat tertentu kerap diduga terlibat dalam kebijakan yang hanya menguntungkan kelompok tertentu. Mereka bahkan dinilai sudah terkoneksi dengan “Laknat Nasional”, memperbesar ancaman terhadap kedaulatan dan kesejahteraan bangsa.

“Banyak kepala daerah kini hanya mengejar obsesi pribadi, haus kekuasaan, dan rela menjadi laknat kecil karbitan. Mereka menjauhi perintah Allah dan justru melakukan larangan-Nya. Dari kasus di daerah-daerah, kita bisa melihat jelas bagaimana laknat kecil mulai terkoneksi dengan laknat besar,” ungkap seorang aktivis nasionalis.

Sorotan ke Sri Mulyani dan Elit Ekonomi

Di media sosial, isu ini juga ramai diperbincangkan. Salah satunya akun @KucingMujair100, yang dalam unggahan videonya menyoroti sosok Menteri Keuangan Sri Mulyani. Ia dianggap memiliki keterkaitan dengan elit global karena pernah berkarier di Bank Dunia dan IMF.

Hal ini menimbulkan spekulasi tentang adanya potensi “Para Laknat” yang memainkan peran di papan catur politik dan ekonomi global, sekaligus mengendalikan kebijakan di level nasional.

Landasan Agama: Siapa yang Dilaknat Allah?

Dalam Islam, istilah “laknat” erat kaitannya dengan orang-orang yang berpaling dari kebenaran dan melanggar perintah Allah. Al-Qur’an menyebutkan beberapa golongan yang mendapat laknat Allah, di antaranya:

1. Iblis – yang membangkang perintah Allah (QS. An-Nisa: 117).

2. Orang yang menyembunyikan kebenaran (QS. Al-Baqarah: 159).

3. Orang yang gemar berdusta (QS. Ali Imran: 61).

4. Orang yang membunuh dengan sengaja (QS. An-Nisa: 93).

5. Orang kafir dari Bani Israil yang melampaui batas (QS. Al-Maidah: 78-80).

6. Pelaku suap-menyuap yang jelas-jelas dilaknat Allah dan Rasul-Nya.

Fenomena “Para Laknat” bukan sekadar teori konspirasi, melainkan realitas yang dirasakan masyarakat. Dari level global hingga lokal, praktik melemahkan bangsa melalui ekonomi, politik, dan budaya sudah nyata di depan mata.

Sebagai bagian dari bangsa Indonesia, masyarakat dituntut untuk lebih kritis, waspada, dan saling mengingatkan. Ancaman terhadap kedaulatan dan kemerdekaan tidak hanya datang dari luar, tetapi juga dari dalam negeri sendiri.

 

PENULIS : ADE SURYATMAN

1033 Dilihat
Berita Terbaru
Berita Terbaru
Kabar Daerah
Terpopuler
Pengunjung