Andalasnews.com Jakarta – Sosok Sultan Irvian Bobby Mahendro (IBM), pejabat Kementerian Ketenagakerjaan (Kemenaker), kini tengah menjadi buah bibir. Pria yang menjabat Koordinator Bidang Kelembagaan dan Personil K3 periode 2022–2025 itu, tak hanya dikenal di internal kementerian, tetapi juga di kalangan pengusaha jasa K3 dengan julukan mewah “Sultan.”
Sosok Irvian Bobby Mahendro
Irvian Bobby Mahendro adalah seorang ahli K3 yang memiliki latar belakang pendidikan S1 Teknik Mesin dan S2 Manajemen.
Irvian merupakan seorang aparatur sipil negara (ASN) yang menjabat sebagai Koordinator Bidang Kelembagaan dan Personel K3.
Sertifikat K3 adalah bukti resmi bahwa seseorang telah mengikuti pelatihan K3 sesuai standar nasional atau internasional.
Sertifikat ini diterbitkan lembaga pelatihan yang terakreditasi untuk bidang Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3).
Julukan itu bukan tanpa alasan. IBM disebut sebagai orang paling banyak menguasai aliran uang dalam skandal dugaan pemerasan Rp81 miliar dari perusahaan jasa Keselamatan dan Kesehatan Kerja (PJK3). Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) mengungkap, dari total dana haram itu, sekitar Rp69 miliar mengalir langsung ke kantong Irvian.
Ironisnya, uang tersebut dikumpulkan dari para buruh dan tenaga kerja yang seharusnya membayar biaya sertifikasi K3 dengan tarif resmi Rp275 ribu. Namun, lewat skema pemerasan, biaya itu melonjak hingga Rp6 juta per orang.
“Buruh yang seharusnya dilindungi justru dijadikan sapi perah,” kata Ketua KPK Setyo Budiyanto dalam keterangannya.
Skandal ini terbongkar setelah KPK melakukan Operasi Tangkap Tangan (OTT) pada Rabu malam, 20 Agustus 2025. Irvian menjadi pejabat pertama yang diamankan. Dari sinilah terungkap peran mantan Wakil Menteri Ketenagakerjaan (Wamenaker), Immanuel Ebenezer alias Noel, yang diduga mengetahui praktik IBM.
Alih-alih menghentikan kecurangan, Noel justru ikut meminta bagian. Menurut KPK, tak lama setelah dilantik sebagai Wamenaker pada Oktober 2024, Noel menagih uang Rp3 miliar kepada IBM. Dana itu disebut dipakai untuk merenovasi rumah pribadinya di Cimanggis, dan benar-benar cair pada Desember 2024.
Kedekatan keduanya terungkap dari panggilan yang kerap digunakan Noel kepada IBM “Sultan.” Panggilan ini menggambarkan posisi IBM sebagai “orang yang paling banyak uang” di Direktorat Jenderal Pembinaan Pengawasan Ketenagakerjaan dan K3.
“IEG (Immanuel Ebenezer Gerungan) menyebut IBM sebagai Sultan. Maksudnya, dia orang yang paling banyak uang di Ditjen Binwas K3. IEG minta untuk renovasi rumah, IBM kasih Rp3 miliar,” ungkap Setyo.
KPK menduga uang miliaran rupiah itu tidak hanya berhenti pada IBM dan Noel. Ada indikasi kuat aliran dana juga mengarah ke pihak-pihak lain di Kemenaker maupun pengusaha yang terlibat dalam bisnis jasa K3.
“Skema ini sistematis, berlangsung bertahun-tahun, dan melibatkan jaringan luas,” tambah Setyo.
Kasus ini memicu kegaduhan di kalangan buruh. Serikat pekerja menilai skandal ini sebagai pengkhianatan terhadap amanat negara dalam melindungi tenaga kerja. “Bagaimana buruh bisa sejahtera, kalau pejabatnya justru memeras mereka?” kata salah satu aktivis buruh.
Kini, KPK memastikan akan menelusuri lebih dalam siapa saja yang menikmati aliran dana Rp81 miliar tersebut. Publik menunggu, apakah skandal “Sultan IBM” ini hanya berhenti pada dua nama besar, atau menyeret pejabat lain di tubuh Kemenaker.
Editor : F-A
Redaksi Andalasnews.com
©AndalasNews.com/VE/pzhc








