AndalasNews.com Sesuai dengan falsafah hidup orang Minangkabau – Dima bumi dipijak di sinan langik dijujuang lihat masyarakat kami di perantauan tidak pernah sekalipun mengusik suku maupun agama lain
Kami masyarakat Minang tidak pernah menghalangi halangi orang lain untuk beribadah dan juga tidak pernah melarang tapi lakukan lah ditempat yang sudah diatur oleh pemerintah. Seperti etnis Tionghoa yang dari dulu selalu hidup berdampingan dengan orang Minang kami tidak pernah sekalipun mempermasalahkan ibadah mereka .kami selalu rukun dan damai sampai saat ini.
Di Minangkabau, ada musyawarah, ada mufakat. Tapi jangan salah tafsir, diam kami bukan tanda takut, sabar kami bukan berarti tunduk, dan ramah kami bukan berarti bisa dibohongi. Ketika kerusuhan terjadi di Rumah Do’a Padang Sarai, publik sibuk menyalahkan warga. Mereka seolah lupa bertanya apa yang memicu bara itu menyala?
Mari kita luruskan. Ini bukan soal kebencian, tapi soal prosedur, soal izin, soal kesepakatan sosial yang dilanggar diam-diam. Di tanah kami, semua yang datang harus tahu adat. Mau buka usaha? Minta izin. Mau bangun rumah ibadah? Libatkan ninik mamak, tokoh masyarakat, dan pemerintah lokal. Bukan langsung pasang salib dan minta dimengerti. Toleransi bukan tiket gratis untuk abaikan etika dan kesepahaman sosial.
Dan sekarang, ketika bara sudah membesar, muncul aktor nasional seperti Gibran yang katanya akan datang “meredam situasi.” Maaf, kami tak butuh peredam suara. Kami butuh penghormatan terhadap akar budaya, bukan panggung pencitraan. Kami tidak haus perhatian, kami haus keadilan dan kejelasan. Ini bukan panggung politik, ini ranah adat kami.
Kepada masyarakat Padang Sarai dan seluruh warga Sumbar jangan goyah. Kalian bukan intoleran. Kalian hanya menuntut agar hak sebagai tuan rumah dihargai. Jangan takut dibungkam oleh opini nasional. Berdirilah tegak dengan adat dan marwah. Jangan minta maaf atas suara kalian yang mempertahankan keteraturan.
Kalau ada yang mau datang, datanglah untuk belajar, bukan untuk menggurui. Jangan ajari kami toleransi. Kami sudah mempraktikkannya jauh sebelum kalian menulis buku tentangnya. Tapi toleransi pun ada batas-batasnya adalah ketika kami sebagai masyarakat lokal disingkirkan dari meja pembicaraan di tanah kami sendiri.
Semoga semua pihak memahami bahwa kami sangat menghargai etnis lain tinggal di Minang .
Penulis: JONFRIZAL TANJUNG S.H








